Kata Para Orang Tua Ketika Anak-anak Ikut Demam Pokemon Go

lego-pokemonBukan saja orang dewasa, anak-anak pun berpotensi memainkan game berbasis augmented reality, Pokemon Go. Bagi para orang tua, ada yang membolehkan sang anak untuk memainkan game ini tapi dengan syarat tertentu. Atau sebaliknya, ada yang justru melarang. Seperti Dhean (35) yang tinggal di Surabaya. Ia mengatakan jika memang sang anak, Akbar (11) akan menginstall game tersebut ia membolehkannya. Tetapi, ketika bermain harus di bawah pengawasan sang ibu. Apalagi, selama ini memang penggunaan ponsel dan laptop Akbar selalu di bawah pengawasan. “Kalau nyarinya mesti jalan-jalan ke sana ke mari kayaknya Akbar mainnya juga harus aku anterin deh, nggak boleh sendirian,” tutur Dhean ketika berbincang dengan detikHealth, Kamis (14/7/2016). Lain halnya dengan Evida. Ia dengan tegas tak membolehkan putrinya yang berusia 12 tahun dan putranya yang berusia 9 tahun untuk menginstall Pokemon Go. Meskipun, dikatakan Evida, kedua anaknya memang termasuk gamers dan ‘gadgeters’. Evida mengatakan, saat games ini booming, ia memberitahu anak-anaknya tidak boleh meng-install-nya tanpa seizin sang ibu. Ia pun mengatakan bahwa si anak belum perlu mainan ini. “Permainan ini memang membuat orang bergerak tapi justru tidak safe buat anak-anak. Saya agak takut kalau mereka ke luar rumah dan hilang fokus dengan keadaan sekitarnya. Kalau hanya membuat anak-anak bergerak, saya pikir ada banyak cara yang edukatif dan sportif. Main sepeda, badminton, mengajak jalan binatang peliharaan, petak umpet, dan itu masih dilakukan anak-anak saya,” terang wanita yang berdomisili di Depok ini. Menurut Evida, anak-anaknya cukup kooperatif karena berdasarkan kesepakatan, pembelian gadget menggunakan uang si anak dengan cara mencicil dari uang jajan. Kemudian, sampai usia 17 tahun, Evida dan suami berhak mengecek isi gadget mereka secara langsung di depan mereka. Soal kekhawatiran lain, lanjut Evida, tentu ada. Karena di rumah tidak ada Asisten Rumah Tangga (ART) kemudian Evida dan suaminya bekerja, sehingga si anak diwanti-wanti tidak keluar rumah untuk hal yang tidak penting. Selama ini, anak-anak Evida boleh keluar rumah untuk bersepeda dengan teman atau main ke rumah teman, tapi sebelumnya mereka harus izin lebih dulu. “Nah, kalau Pokemon go ini tentunya akan membuat anak-anak saya keluar rumah dengan frekuensi sering dan bisa membuat mereka lost focus dengan keadaan sekitar. Rumah jadi tidak terjaga dengan baik, dan tentu ketakutan saya yang terbesar itu adalah ada orang yang memanfaatkan itu, semisal penculikan anak,” kata Evida. Menanggapi jika Pokemon Go ini dimainkan oleh anak-anak, psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani MPsi yang juga ibu dari dua anak turut angkat bicara. Wanita yang akrab disapa Nina ini mengatakan, dengan bermain Pokemon Go, terutama tanpa pengawasan, dikahwatirkan anak-anak bisa masuk ke area-area yang cenderung membahayakan mereka. “Kemudian khawatir akan faktor keamanan anak saat mengejar pokemon ini. Lalu khawatir kalau anak-anak ini kecanduan gadget. Selain itu, ada kekhawatiran lain, misalnya mereka jadi menghabiskan terlalu banyak waktu buat main dan mengesampingkan hal lain yang lebih penting seperti belajar atau bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya secara nyata,” tutur Nina. (rdn/fyk)

Posted in LEGO News & Facts.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>